Pemetaan Bisnis Proses Psikoterapi
KASUS 1 : GANGGUAN KECEMASAN ( FOBIA SEMUT)
| NO | TAHAP PROSES BISNIS DALAM PSIKOLOGI | KETERANGAN |
| 1 | ANAMNESA | · cerita tentang riwayat penyakit yang diutarakan oleh pasien atau keluarga klien melalui Tanya Jawab,yang disusun secara kronologis yang memerlukan pemahaman tentang patofisiologi dari pemeriksaan. · Mencari tahu dengan unsur 5W+1H dari latarbelakang dari fobia ular |
| 2 | RAPPORT | · salah satu 'tool' yang sangat berguna untuk memulai komunikasi dan menjalin hubungan, terutama dengan orang yang baru kita kenal atau hubungan terapis dengan pasien(klien). |
| 3 | IDENTIFIKASI MASALAH | · Apa yang menjadi permasalahan klien yang menggangu dan ingin di ubah menjadi lebih baik. Melihat sejauh mana klien terganggu dengan permaslahannya. |
| | DEFINISI KECEMASAN | · perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan gelisah. Keadaan emosi ini tanpa objek yang spesifik, dialami secara subjektif dipacu oleh ketidak tahuan yang didahului oleh pengalaman baru, dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. · Kriterianya seperti penolakan berdasarkan ketakutan terhadap benda-benda atau situasi yang dihadapi yang sebetulnya tidak berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya, seperti sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah. |
| | GEJALA-GEJALA | 1. Gejala fisiologis · Peningkatan frekuensi nadi, · tekanan darah, · nafsu, · gemetar, · mual muntah, · sering berkemih, · diare, · insomnia, · kelelahan dan kelemahan, · kemerahan atau pucat pada wajah, · mulut kering, · nyeri (dada, punggung dan leher), · gelisah, · pingsan dan · pusing. 2. Gejala emosional · Individu mengatakan merasa ketakutan, · tidak berdaya, · gugup, · kehilangan percaya diri, · tegang, · tidak dapat rileks, · individu juga memperlihatkan peka terhadap rangsang, · tidak sabar, mudah marah, menangis, cenderung menyalahkan orang lain, · mengkritik diri sendiri dan orang lain. 3. Gejala kognitif · Tidak mampu berkonsentrasi, · kurangnya orientasi lingkungan, · pelupa (ketidakmampuan untuk mengingat) dan · perhatian yang berlebihan. |
| 4 | MEMILIH JENIS TERAPI | · Terapi Desensitisasi Sistematik |
| 5 | MELAKUKAN TERAPI | § Penggantian Stimulus § Stimulus Penghasil kecemasan dilemahkan § Gejala kecemasan dikendalikan atau dihapus § Teknik Relaksasi o Menyusun hirarki kecemasan atau ketakutan o Latihan relaksasi - Relaksasi Otot - Memikirkan atau membayangkan situasi-situasi yang membuat tenang atau damai o Proses desentisasi - Mempraktekan, dimulai dari kecemasan pada taraf paling rendah - Mencoba praktek sendiri dengan dibantu terapis |
| 6 | EVALUASI | · Pada tahap ini terapis mengkaji kembali hasil dari terapi yang telah diberikan terhadap klien yang mengalami gangguan fobia. Jika terapi yang diberikan tidak berhasil atau tidak ada perubahan dari klien maka terapis dapat melakukan post therapy (terapi dengan teknik lain). |
| 7 | POST THERAPY | · Pada tahap ini akan dilakukan terapi yang berbeda dari terapi yang pertama diberikan kepada klien dan jika hasil dari terapi yang pertama tidak memiliki perubahan yang berarti bagi klien. |
KASUS 2 : GANGGUAN BULIMIA
| NO | TAHAP PROSES BISNIS DALAM PSIKOLOGI | KETERANGAN |
| 1 | ANAMNESA | · cerita tentang riwayat penyakit yang diutarakan oleh pasien atau keluarga klien melalui Tanya Jawab,yang disusun secara kronologis yang memerlukan pemahaman tentang patofisiologi dari pemeriksaan. · Mencari tahu dengan unsur 5W+1H dari latarbelakang dari gangguan makan bulimia |
| 2 | RAPPORT | · salah satu 'tool' yang sangat berguna untuk memulai komunikasi dan menjalin hubungan, terutama dengan orang yang baru kita kenal atau hubungan terapis dengan pasien(klien). |
| 3 | IDENTIFIKASI MASALAH | · Apa yang menjadi permasalahan klien yang menggangu dan ingin di ubah menjadi lebih baik. Melihat sejauh mana klien terganggu dengan permaslahannya. |
| | DEFINISI BULIMIA | · Anoreksia dan bulimia adalah kelainan pola makan yang sering terjadi pada wanita. Kelainan tersebut biasanya merupakan suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian yang sangat besar untuk menghadapi masalah anorexia dan bulimia.Anoreksia dan bulimia merupakan gangguan makan yang menyiksa, dimana kedua keadaan itu sama bahayanya bagi tubuh. Gangguan tersebut dihasilkan oleh ketakutan bahwa tubuh akan menjadi gemuk setelah makan, dan ketakutan mental itu akan terpancar melalui penyiksaan fisik. · Gejala umum anoreksia dan bulimia yaitu depresi, kepercayaan diri yang rendah, penampilan yang tidak proporsional, hubungan keluarga yang terganggu, nafsu makan berkurang,?sulit mengontrol emosi, mudah terjangkit penyakit, berat badan ringan,?dan kekurangan nutrisi.. |
| | GEJALA-GEJALA | 1. Penderita lebih sulit dideteksi karena berat tubuh mereka bisa saja melebihi batas normal, di bawah batas normal, atau bahkan mempunyai berat tubuh yang normal. 2. Biasanya penderita adalah wanita, baik remaja maupun dewasa muda. 3. Ciri utamanya seperti makan dalam jumlah yang banyak dan kemudian dimuntahkan kembali atau mengonsumsi obat pencahar dan obat diuretik untuk memuntahkan kembali makanan yang telah disantap. 4. Mempunyai beberapa masalah kesehatan yang muncul akibat kebiasaan memuntahkan kembali makanan setelah disantap, seperti terjadinya luka pada dinding perut, radang pada usus buntu, denyut jantung tidak teratur, kerusakan pada ginjal karena rendahnya asupan potasium, rusaknya email gigi karena terciptanya produksi asam yang berlebihan ketika muntah, dan terhentinya menstruasi. 5. Kemarahan tertahan karena ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang lazim. Biasanya penderita bulimia takut mengecewakan orang-orang yang mereka cintai dalam lingkungan mereka. |
| 4 | MEMILIH JENIS TERAPI | · Pendekatan terapi perilaku kognitif (CBT-cognitive) dari fairburn merupakan strandar penanganan bulimia yang paling baik tervalidasi paling baik dan paling terkini. Dalam teori fairburn, psien didorong untuk mempertanyakan berbagai standar masyarakat terkait dengan daya tarik fisik. Para pasien juga juga arus mengungkap dan kemudian mengubah keyakinan yang mendorong mereka melaparkan diri untuk mencegah bertambahnya berat badan. |
| 5 | MELAKUKAN TERAPI | · Mempertanyakan kebenaran pendapat klien secara empiris dan logis · Menggunakan statement coping dan statement diri yang rasional dan berulang-ulang · Mempertimbangkan hasil - Keuntungan jika berubah - Kerugian jika tidak berubah · Menggunakan metode phsychoeducational (audio-video cassette) · Response prevention (setiap akan memikirkan di cut---stop thinking) |
| 5 | EVALUASI | · Pada tahap ini terapis mengkaji kembali hasil dari terapi yang telah diberikan terhadap klien yang mengalami gangguan fobia. Jika terapi yang diberikan tidak berhasil atau tidak ada perubahan dari klien maka terapis dapat melakukan post therapy (terapi dengan teknik lain). |
| 6 | POST THERAPY | · Pada tahap ini akan dilakukan terapi yang berbeda dari terapi yang pertama diberikan kepada klien dan jika hasil dari terapi yang pertama tidak memiliki perubahan yang berarti bagi klien |
KASUS 3 : GANGGUAN SOMATISASI
| NO | TAHAP PROSES BISNIS DALAM PSIKOLOGI | KETERANGAN |
| 1 | ANAMNESA | · cerita tentang riwayat penyakit yang diutarakan oleh pasien atau keluarga klien melalui Tanya Jawab,yang disusun secara kronologis yang memerlukan pemahaman tentang patofisiologi dari pemeriksaan. · Mencari tahu dengan unsur 5W+1H dari latarbelakang dari gangguan Somatis |
| 2 | RAPPORT | · salah satu 'tool' yang sangat berguna untuk memulai komunikasi dan menjalin hubungan, terutama dengan orang yang baru kita kenal atau hubungan terapis dengan pasien(klien). |
| 3 | IDENTIFIKASI MASALAH | · Apa yang menjadi permasalahan klien yang menggangu dan ingin di ubah menjadi lebih baik. Melihat sejauh mana klien terganggu dengan permaslahannya. |
| | DEFINISI SOMATISASI | · berorientasi pada organ tubuh yang mengalami gangguan), . · Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.. · |
| | GEJALA-GEJALA | 1. Keluhannya dapat mengenai setiap sistem atau bagian tubuh manapun, tetapi paling lajim mengenai keluhan gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, mual, muntah), kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, napas pendek yang tidak berhubungan dengan aktivitas dan keluhan-keluhan perasaan abnormal pada kulit (perasaan gatal, rasa terbakar, kesemutan, baal, pedih, dsb.), serta bercak-bercak pada kulit. Keluhan mengenai seks dan haid juga lazim terjadi 2. Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal adalah menonjol, dan sering sekali terdapat anxietas dan depresi yang nyata sehingga memerlukan terapi khusus. Pasien biasanya tetapi tidak selalu menggambarkan keluhannya dengan cara yang dramatik, emosional, dan berlebih-lebihan, dengan bahasa yang gamblang dan bermacam-macam. Pasien wanita dengan gangguan somatisasi mungkin berpakaian eksibisionistik. Pasien mungkin merasa tergantung, berpusat pada diri sendiri, haus akan pujian atau sanjungan dan manipulatif. 3. Gangguan somatisasi sering disertai oleh gangguan mental lainnya, termasuk gangguan depresi berat, gangguan kepribadian, gangguan berhubungan dengan zat, gangguan kecemasan umum, dan fobia. |
| 4 | MEMILIH JENIS TERAPI | · Pendekatan terapi perilaku kognitif (CBT-cognitive) dari fairburn merupakan strandar penanganan bulimia yang paling baik tervalidasi paling baik dan paling terkini. Dalam teori fairburn, psien didorong untuk mempertanyakan berbagai standar masyarakat terkait dengan daya tarik fisik. Para pasien juga juga arus mengungkap dan kemudian mengubah keyakinan yang mendorong mereka melaparkan diri untuk mencegah bertambahnya berat badan. |
| 5 | MELAKUKAN TERAPI | · Mempertanyakan kebenaran pendapat klien secara empiris dan logis · Menggunakan statement coping dan statement diri yang rasional dan berulang-ulang · Mempertimbangkan hasil - Keuntungan jika berubah - Kerugian jika tidak berubah · Menggunakan metode phsychoeducational (audio-video cassette) · Response prevention (setiap akan memikirkan di cut---stop thinking) |
| 5 | EVALUASI | · Pada tahap ini terapis mengkaji kembali hasil dari terapi yang telah diberikan terhadap klien yang mengalami gangguan fobia. Jika terapi yang diberikan tidak berhasil atau tidak ada perubahan dari klien maka terapis dapat melakukan post therapy (terapi dengan teknik lain). |
| 6 | POST THERAPY | · Pada tahap ini akan dilakukan terapi yang berbeda dari terapi yang pertama diberikan kepada klien dan jika hasil dari terapi yang pertama tidak memiliki perubahan yang berarti bagi klien |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar